Home » » Jazirah Arab dan Tata Sosial Masyarakat Jahiliyah

Jazirah Arab dan Tata Sosial Masyarakat Jahiliyah

Posted by Kumpulan Makalah on 18 Feb 2016

PENDAHULUAN
Masa sebelum Islam, khususnya kawasan jazirah Arab, disebut masa jahiliyyah.Julukan semacam ini terlahir disebabkan oleh terbelakangnya moral masyarakat Arab khususnya Arab pedalaman (badui) yang hidup menyatu dengan padang pasir dan area tanah yang gersang. Mereka pada umumnya hidup berkabilah. Mereka berada dalam lingkungan miskin pengetahuan. Situasi yang penuh dengan kegelapan dan kebodohan tersebut, mengakibatkan mereka sesat jalan, tidak menemukan nilai-nilai kemanusiaan, membunuh anak dengan dalih kemuliaan, memusnahkan kekayaan dengan perjudian, membangkitkan peperangan dengan alasan harga diri dan kepahlawanan. Dalam Islam, periode jahiliyah dianggap sebagai suatu kemunduran dalam kehidupan beragama. Suasana semacam ini terus berlangsung hingga datang Islam di tengah-tengah mereka.
Rentetan peristiwa yang melatar belakangi lahirnya Islam merupakan hal yang sangat penting untuk dikaji. Hal demikian karena tidak ada satu pun peristiwa di dunia yang terlepas dari konteks historis dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya. Artinya, antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya terdapat hubungan yang erat dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan Islam dengan situasi dan kondisi Arab pra Islam.


RUMUSAN MASALAH
A. Bagaimana letak geografis Jazirah Arab?
B. Apa agama bangsa Arab Pra-Islam?
C. Bagaimana peradaban bangsa Arab Pra-Islam?
D. Bagaimana kehidupan sosial di Jazirah Arab?
E. Bagaimana kehidupan politik di Jazirah Arab?
F. Bagaimana kehidupan ekonomi di Jazirah Arab?

PEMBAHASAN
A. Letak geografis Jazirah Arab
Jazirah secara etimologi berasal dari bahasa Arab yang berarti kepulauan, Arab secara etimologi berasal dari kata Arabia yang bearti gurun pasir atau sahara. Menurut Nuldeke, seorang ahli ketimuran dari Jerman sebab sebagian besar wilayah arab terdiri dari gurun pasir.Tetapi menurut Muhammad Hasyim Athiyah, kata Arab berasal dari kata abar artinya rahlah atau kembara, sebab bangsa Arab adalah bangsa yang suka berpindah.Dari segi geografis sebenarnya arab bukanlah sebuah Kepulauan sebab dari empat penjuru perbatasannya masih ada satu yang tidak berbatasan dengan laut, yaitu:
  1. Disebelah utara Jazirah Arab berbatasan dengan gurun Iran dan gurun Syiria,
  2. Disebelah selatan berbatasan dengan samudra Hindia,
  3. Disebelah barat berbatasan dengan laut Merah, dan
  4. Disebelah timur berbatasan dengan teluk Persia.[1]
Jazirah Arab merupakan suatu daerah berupa pulau yang berada diantara benua Asia dan Afrika. Jazirah Arab memiliki luas wilayah kurang lebih 1.100.000 mil persegi atau 126.000 farsakh persegi atau 3.156.558 kilometer persegi. Tanah yang sekian luasnya itu sepertiganya tertutupi oleh lautan pasir, yang diantaranya yang paling besar adalah ar-Rabi’l-Khaly. Bukan dengan pasir saja, tetapi dipenuhi pula oleh batu-batu yang besar atau gunung-gunung batu yang tinggi, diantaranya yang paling tinggi dan besar adalah Jabal Sarat. Daerah seluas itu, pada masa itu dihuni oleh 12 juta jiwa, namun ada yang berpendapat 10 juta jiwa.[2]

Dari sisi kondisi cuaca, semenanjung Arab merupakan salah satu wilayah yang kering dan terpanas. Hanya Yaman dan Asir yang mendapatkan curah hujan yang cukup untuk bercocok tanam secara teratur.[3]

B. Agama bangsa Arab Pra-Islam
Agama bangsa Arab sebelum kedatangan Islam sangat beragam, ada yang menyembah Allah, ada yang menyembah Matahari, Bulan, Bintang, Bahkan ada pula yang menyembah patung dan api. Ada pula yang beragama Nasrani dan Yahudi.


Walaupun agama Yahudi dan Kristen sudah masuk jazirah Arab, bangsa Arab masih menganut agama asli mereka, yaitu kepercayaan kepada banyak dewa yang diwujudkan dalam bentuk berhala dan patung. Setiap kabilah mempunyai berhala sendiri. Berhala-berhala tersebut dipusatkan di Ka’bah, meskipun ditempat-tempat lain juga ada.Menurut riwayat, dalam Ka’bah itu terdapat 360 buah patung yang bermacam-macam bentuk dan warna menurut kemauan masing-masing kabilah dan suku.Berhala-berhala yang penting adalah Hubal, yang dianggap sebagai dewa terbesar, terletak di Ka’bah; Lata, dewa tertua, terletak di Thaif; Uzza, bertempat di Hijaz. Berhala-berhala itu mereka jadikan tempat untuk menanyakan dan mengetahui nasib baik dan nasib buruk.[4]

Salah satu corak beragama yang ada sebelum Islam datang selain  agama-agama di atas adalah Ḥanīfīyah, yaitu sekelompok orang yang mencari agama Ibrahim yang murni yang tidak terkontaminasi oleh nafsu penyembahan berhala-berhalam, juga tidak menganut agama Yahudi ataupun Kristen, tetapi mengakui keesaan Allah. Merekaberpandanganbahwa agama yang benar di sisi Allah adalah Ḥanīfīyah.[5]

C. Peradaban bangsa Arab Pra-Islam
Sebelum membahas tentang Peradaban Islam, tentunya kita harus mendalami terlebih dahulu tentang bangsa Arab yang merupakan bangsa yang sangat berperan dalam pembentukan sejarah peradaban Islam. Hal tersebut dikarenakan hampir semua peradaban Islam dimulai dan terjadi di Jazirah Arab. Baik kelahiran Islam itu sendiri, perkembangannya dan masa kejayaannya.

Peradaban dunia menjelang lahirnya Islam telah menyimpang jauh dari ketentuan Allah SWT yang telah dititipkan kepada Nabi Isa a.s. Peradaban Arab ketika itu memiliki corak, yaitu bobroknya moralitas, bahkan sama sekali tidak mencerminkan budaya yang positif, sehingga peradaban Arab ketika itu disebut peradaban Jahiliyah.

Sesungguhnya kata Jahiliyyah sendiri adalah mashdar shina’iy yang berarti penyandaran sesuatu kepada kebodohan. Kebodohan menurut Manna’ Khalil al-Qathtan ada tiga 3 makna, yaitu:[6]
  1. Tidak adanya ilmu pengetahuan (makna asal).
  2. Meyakini sesuatu secara salah.
  3. Mengerjakan sesuatu dengan menyalahi aturan atau tidak mengerjakan yang seharusnya dia kerjakan.
Masyarakat jahiliyah tidak merujuk pada kurun waktu tertentu, melainkan suatu kondisi masyarakat.Dalam pengetahuan dan peradaban, masyarakat Arab tidak bisa disebut jahiliyyah (bodoh) dalam pengertian barbar dan primitif. Justru banyak perilaku dan pengetahuan positif yang dihasilkan mereka, yang kemudian dipelihara oleh Islam, misalnya dalam penghormatan tamu, kedermawanan, tepat janji, bersahaja. Yang dimaksud masyarakat jahiliyah sebelum datangnya Islam adalah keseluruhan masyarakat yang menjauhi nilai-nilai fitrah, yang sudah dibawa oleh para Rasul pembawa risalah tauhid.

Sebutan jahiliyah ini perlu mendapat penjelasan lebih lanjut, jika masyarakat jahiliyah kita artikan sebagai masyarakat bodoh dalam pengertian primitif yang tak mengenal pengetahuan atau budaya; tentu sulit dipertanggungjawabkan, karena berdasarkan data sejarah, masyarakat Arab waktu itu juga telah memiliki nilai-nilai peradaban sesederhana pun peradaban itu. . Seorang ahli sejarah Islam terkenal Ahmad Amin mendefinisikan kata-kata “Arab Jahiliyah” yaitu orang-orang Arab sebelum Islam yang membangkang kepada kebenaran, mereka terus melawan kebenaran, sekalipun mereka telah mengetahui bahwa itu benar.[7]

Banyak hubungan antara wanita dan laki-laki yang diluar wajar, seperti:
  1. Pernikahan secara spontan, seorang laki-laki mengajukan lamaran kepada laki-laki lain yang menjadi wali wanita itu, lalu dia dapat menikahi wanita itu seketika itu pula setelah menyerahkan mas kawin.
  2. Para laki-laki bisa mendatangi wanita wanita sesuka hatinya, yang disebut wanita pelacur.
  3. Pernikahan istibdha’, seorang laki-laki menyuruh istrinya bercampur kepada laki-laki lain.
  4. Laki-laki dan wanita bisa saling berhimpun dalam berbagai medan pertempuran. Untuk pihak yang menang, bisa menawan wanita dari pihak yang kalah dan menghalalkannya menurut kemauannya.
Hal-hal yang menyimpang diluar kewajaran selain itu adalah Poligami tanpa ada batasannya. Menikahi janda bapak mereka sendiri.

Ada pula yang sangat pantas jika mereka disebut masyarakat jahiliyyah, yakni mengubur hidup-hidup anak perempuan mereka karena malu. Atau ada juga yang membunuh anak laki-laki mereka, apabila anak laki-laki mereka itu dinilai mempunyai watak penakut dan atau pengecut. Karena  adanya kepercayaan bahwa akan kelaparan dan mengalami kemiskinan. Walaupun adat seperti itu tidak dapat dibenarkan, namun untuk dapat memahaminya perlu dilihat motivasi-motivasi yang mendorong adanya adat seperti itu. Biarpun masyarakat arab pra-Islam juga memiliki rasa iba dan kasih sayang kepada anak kandungnya. Akan tetapi sifat-sifat keprimitifan mereka sebagai suku-suku pengembara, terlampau berlebihan dalam mendewa-dewakan harga diri, kehormatan dan nama baik keluarga dan kabilahnya. Mereka sangat takut kalau-kalau di kemudian hari anak perempuannya akan mencemarkan nama baik keluarga dan kabilahnya, mengingat tata sosial pada masa itu tatkala kaum wanita hanya berkedudukan sebagai pemuas nafsu kaum pria belaka. Dan tidak memiliki hak apapun dalam menentukan nasibnya sendiri.

Akan tetapi dalam hal lain ada pula segi-segi positif sifat dan tabiatnya yang mampu mengalahkan segi-segi negatifnya. Seperti kepekaan mereka apabila harga diri, kehormatan dan kebebasannya diganggu orang, kedermawanan mereka terhadap tamu, keberanian berkorban untuk sesuatu yang dianggapnya benar, menjunjung tinggi prinsip-prinsip persamaan dan demokrasi, semuanya itu merupakan sifat-sifat yang patut dipuji.[8]

D. Kehidupan sosial di Jazirah Arab
Bila dilihat dari segi sosiologis dan antropologis bangsa Arab mempunyai tingkat solidaritas dan budaya yang tinggi. Tingkat solidaritas yang sangat tinggi itu bisa dilihat dari kehidupan bangsa Arab di padang Pasir yaitu kaum Badui. Mereka mempunyai perasaan kesukuan yang tinggi. Karena sukuisme itulah yang akan melindungi keluarga dan warga suatu suku. Hal ini disebebkan terutama karena di padang pasir tidak ada pemerintahan atau suatu badan resmi yang dapat melindungi rakyat atau warga negaranya dari penganiayaan dan tindakan sewenang-wenang dari siapa saja. Kabilah atau suku itulah yang mengikat warganya dengan ikatan darah (keturunan) atau ikatan kesukuan. Kabilah itulah yang berkewajiban melindungi warganya dan melindungi orang-orang yang menggabungkan diri atau meminta perlindungan kepadanya.[9]

Kehidupan sosial bangsa Arab juga dapat kita ketahui dengan adanya syair-syair Arab. Syair merupakan salah satu seni yang sangat dihargai dan dimuliakan oleh bangsa Arab. Seorang penyair mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam dalam masyarakat bangsa Arab.Salah satu pengaruh syair pada bangsa Arab ialah bahwa syair itu dapat meninggikan derajat seseorang yang tadinya hina atau sebaliknya.[10]

E. Kehidupan politik di Jazirah Arab
Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa sebagian besar daerah Arab adalah daerah gersang dan tandus, kecuali daerah Yaman yang terkenal subur. Ditambah lagi dengan kenyataan luasnya daerah di tengah Jazirah Arab, bengisnya alam, sulitnya transportasi, dan merajalelanya badui yang merupakan faktor-faktor penghalang bagi terbentuknya sebuah negara kesatuan serta adanya tatanan politik yang benar. Mereka tidak mungkin menetap. Mereka hanya bisa loyal ke kabilahnya saja. Oleh karena itu, mereka tidak akan tunduk ke sebuah kekuatan politik di luar kabilahnya yang menjadikan mereka tidak mengenal konsep negara.[11]

Namun dalam bidang perdagangan, peran pemimpin suku sangat kuat. Hal ini tercermin dalam perjanjian-perjanjian perdagangan yang pernah dibuat antara pemimpin suku di Mekkah dengan penguasa Yaman, Yamamah, Tamim, Ghassaniah, Hirah, Suriah, dab Ethiopia.Model organisasi politik bangsa Arab lebih didominasi kesukuan (model kabilah). Kepala sukunya disebut Shaikh, yakni seorang pemimpin yang dipilih antara sesama anggota. Shaikh  dipilih dari suku yang lebih tua, biasanya dari anggota yang masih memiliki hubungan famili. Shaikh tidak berwenang memaksa, serta tidak dapat membebankan tugas-tugas atau mengenakan hukuman-hukuman. Hak dan kewajiban hanya melekat pada warga suku secara individual, serta tidak mengikat pada warga suku lain.[12]

F. Kehidupan ekonomi di Jazirah Arab
Perdagangan merupakan unsur penting dalam perekonomian masyarakat Arab pra Islam. Mereka telah lama mengenal perdagangan bukan saja dengan orang Arab, tetapi juga dengan non-Arab. Kemajuan perdagangan bangsa Arab pra Islam dimungkinkan antara lain karena pertanian yang telah maju. Kemajuan ini ditandai dengan adanya kegiatan ekspor-impor yang mereka lakukan. Para pedagang Arab selatan dan Yaman pada 200 tahun menjelang Islam lahir telah mengadakan transaksi dengan Hindia, Afrika, dan Persia. Komoditas ekspor Arab selatan dan Yaman adalah dupa, kemenyan, kayu gaharu, minyak wangi, kulit binatang, buah kismis, dan anggur. Sedangkan yang mereka impor dari Afrika adalah kayu, logam, budak; dari Hindia adalah gading, sutra, pakaian dan pedang; dari Persia adalah intan.[13] Data ini menunjukkan bahwa perdagangan merupakan urat nadi perekonomian yang sangat penting sehingga kebijakan politik yang dilakukan memang dalam rangka mengamankan jalur perdagangan ini.Faktor-faktor yang mendorong kemajuan perdagangan Arab pra Islam sebagaimana dikemukakan Burhan al-Din Dallu adalah sebagai berikut:
  1. Kemajuan produksi lokal serta kemajuan aspek pertanian.
  2. Adanya anggapan bahwa pedagang merupakan profesi yang paling bergengsi.
  3. Terjalinnya suku-suku ke dalam politik dan perjanjian perdagangan lokalmaupun regional antara pembesar Hijaz di satu pihak dengan penguasa Syam, Persia dan Ethiopia di pihak lain.
  4. Letak geografis Hijaz yang sangat strategis di jazirah Arab.
  5. Mundurnya perekonomian dua imperium besar, Byzantium dan Sasaniah, karena keduanya terlibat peperangan terus menerus.
  6. Jatuhnya Arab selatan dan Yaman secara politis ke tangan orang Ethiopia pada tahun 535 Masehi dan kemudian ke tangan Persia pada tahun 257 M.
  7. Dibangunnya pasar lokal dan pasa musiman di Hijaz, seperti Ukaz, Majna, Zu al-Majaz, pasar bani Qainuna, Dumat al-Jandal, Yamamah dan pasar Wahat.
  8. Terblokadenya lalu lintas perdagangan Byzantium di utara Hijaz dan laut merah.
  9. Terisolasinya perdagangan orang Ethiopia di laut merah karena diblokade tentara Yaman pada tahun 575 M.[14]
Data-data yang dikemukakan Dallu menunjukkan bahwa antara ekonomi dan politik tidak dapat dipisahkan dalam konteks kehidupan masyarakat Arab pra Islam. Kehidupan politik Byzantium dan Sasaniah turut memberikan sumbangan dalam memajukan proses perdagangan yang berlangsung di Hijaz, karena kedua kerajaan ini sangat berkepentingan terhadap jalur perdagangan ini.

Di lain sisi, Mekkah di mana terdapat ka’bah yang pada waktu itu sebagai pusat kegiatan Agama, telah menjadi jalur perdagangan internasional. Hal ini diuntungkan oleh posisinya yang sangat strategis karena terletak di persimpangan jalan yang menghubungkan jalur perdagangan dan jaringan bisnis dari Yaman ke Syiria, dari Abysinia ke Irak. Pada mulanya Mekkah didirikan sebagai pusat perdagangan lokal di samping juga pusat kegiatan agama. Karena Mekkah merupakan tempat suci, maka para pengunjung merasa terjamin keamanan jiwanya dan mereka harus menghentikan segala permusuhan selama masih berada di daerah tersebut. Untuk menjamin keamanan dalam perjalanan suatu sistem keamanan di bulan-bulan suci, ditetapkan oleh suku-suku yang ada di sekitarnya. Keberhasilan sistem ini mengakibatkan berkembangnya perdagangan yang pada gilirannya menyebabkan munculnya tempat-tempat perdagangan baru.

Dengan posisi Mekkah yang sangat strategis sebagai pusat perdagangan bertaraf internasional, komoditas-komoditas yang diperdagangkan tentu saja barang-barang mewah seperti emas, perak, sutra, rempah-rempah, minyak wangi, kemenyan, dan lain-lain. Walaupun kenyataan yang tidak dapat dipungkiri adalah pada mulanya para pedagang Quraish merupakan pedagang eceran, tetapi dalam perkembangan selanjutnya orang-orang Mekkah memperoleh kesuksesan yang besar, sehingga mereka menjadi pengusaha di berbagai bidang bisnis.

KESIMPULAN
Jazirah secara etimologi berasal dari bahasa Arab yang berarti kepulauan, Arab secara etimologi berasal dari kata Arabia yang bearti gurun pasir atau sahara.

Agama bangsa Arab sebelum kedatangan Islam sangat beragam, ada yang menyembah Allah, ada yang menyembah Matahari, Bulan, Bintang, Bahkan ada pula yang menyembah patung dan api. Ada pula yang beragama Nasrani dan Yahudi.

Sebutan jahiliyah perlu mendapat penjelasan lebih lanjut, jika masyarakat jahiliyah kita artikan sebagai masyarakat bodoh dalam pengertian primitif yang tak mengenal pengetahuan atau budaya; tentu sulit dipertanggungjawabkan, karena berdasarkan data sejarah, masyarakat Arab waktu itu juga telah memiliki nilai-nilai peradaban sesederhana pun peradaban itu. Seorang ahli sejarah Islam terkenal Ahmad Amin mendefinisikan kata-kata “Arab Jahiliyah” yaitu orang-orang Arab sebelum Islam yang membangkang kepada kebenaran, mereka terus melawan kebenaran, sekalipun mereka telah mengetahui bahwa itu benar.

Arab mempunyai tingkat solidaritas dan budaya yang tinggi. Tingkat solidaritas yang sangat tinggi itu bisa dilihat dari kehidupan bangsa Arab di padang Pasir yaitu kaum Badui. Mereka mempunyai perasaan kesukuan yang tinggi. Karena sukuisme itulah yang akan melindungi keluarga dan warga suatu suku.

Model organisasi politik bangsa Arab lebih didominasi kesukuan (model kabilah). Kepala sukunya disebut Shaikh, yakni seorang pemimpin yang dipilih antara sesama anggota. Shaikh  dipilih dari suku yang lebih tua, biasanya dari anggota yang masih memiliki hubungan famili. Shaikh tidak berwenang memaksa, serta tidak dapat membebankan tugas-tugas atau mengenakan hukuman-hukuman. Hak dan kewajiban hanya melekat pada warga suku secara individual, serta tidak mengikat pada warga suku lain.

Perdagangan merupakan unsur penting dalam perekonomian masyarakat Arab pra Islam. Faktor-faktor yang mendorong kemajuan perdagangan Arab pra Islam sebagaimana dikemukakan Burhan al-Din Dallu.

PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami buat, semoga dapat memberi manfaat pada penyusun khususnya dan pada pembaca yang budiman pada umumnya. Kami sadari bahwa pembuatan makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan mengandung banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah kami selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Abd. Mutholib, dkk. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Dirjend PKAI dan Universitas Terbuka. 1995.
al-Buthy, Muhammah Sa’id Ramadhan. Sirah Nabawiyah. Jakarta: Robbani Press Cet. 11. 2006.
al-Dawrī,  ‘Abd al-‘Azīz. Muqaddimah fī Tarīkh Ṣadr al-Islam. Beirut: Markaz Dirāsah al-Waḥdah al-‘Arabīyah.
Chalil, Moenawar. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad. Jakarta: Gema Insani. 2001.
Dallu, Burhan al-Din. Jazirat al-‘Arab Qabl al-IslaM. Beirut: t.p, 1989.
Faisal, Ismail. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Yogyakarta: CV. Bina Usaha. 1984.
http://amrikhan.wordpress.com/2011/06/05/resum-sejarah-peradaban-islam/ diakses pada tanggal 1 Oktober 2014 pukul 14:00 WIB.
Lewis, Bernard. Bangsa Arab dalam Lintasan Sejarah dari Segi Geografi, Sosial, Budaya dan Peranan Islam, terj. Said Jamhuri. Jakarta: Ilmu Jaya, 1994.
Mughni, Syafiq A. “Masyarakat Arab Pra Islam”, dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, I. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve. 2002.
Philiph K. Hitti, History of The Arabs. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta. 2010.
Syalabi, A. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Al-Husna Zikra,1997.
Syukur, Fatah. Sejarah Peradaban Islam. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra. 2009.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Cet.15. 2003.

Referensi
[1]Abd. Mutholib, dkk., Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Dirjend PKAI dan Universitas Terbuka, 1995), hlm. 184.
[2]Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, (Jakarta: Gema Insani, 2001), hlm. 13-14
[3]PhiliphK. Hitti, History of The Arabs, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2010), hlm. 16.
[4]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Cet.15, 2003), hlm. 15-16.
[5]Muhammah Sa’id Ramadhan al-Buthy, Sirah Nabawiyah, (Jakarta: Robbani Press Cet. 11, 2006), hlm 21
[6]A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Al-Husna Zikra,1997), hlm 30.
[7]Ismail Faisal, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Yogyakarta: CV. Bina Usaha, 1984), hlm. 35.
[8]http://amrikhan.wordpress.com/2011/06/05/resum-sejarah-peradaban-islam/ diakses pada tanggal 1 Oktober 2014 pukul 14:00 WIB.
[9]Fatah Syukur, Sejarah Peradaban Islam,(Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2009), hlm. 22.
[10]A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: PT. Al-Husna Zikra, 1999), hlm. 58.
[11]‘Abd al-‘Azīz al-Dawrī, Muqaddimah fī Tarīkh Ṣadr al-Islam (Beirut: Markaz Dirāsah al-Waḥdah al-‘Arabīyah, 2007), hlm. 41.
[12]Bernard Lewis, Bangsa Arab dalam Lintasan Sejarah dari Segi Geografi, Sosial, Budaya dan Peranan Islam, terj. Said Jamhuri (Jakarta: Ilmu Jaya, 1994), hlm. 10.
[13]Syafiq A. Mughni, “Masyarakat Arab Pra Islam”, dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, I (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), hlm. 15.
[14] Burhan al-Din Dallu, Jazirat al-‘Arab Qabl al-Isla,  (Beirut: t.p, 1989), hlm. 129-130.

Terima kasih telah membaca artikel ini & dipublikasikan oleh Kumpulan Makalah

Oldest
You are reading the latest post

0 komentar:

Post a Comment

» Gunakan Bahasa yang baik.
» Komentar yang tidak sesuai akan dihapus.